Jumat, 11 Maret 2016 - 11:07:34 WIB
Kewajiban Anak terhadap Orang Tua
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Motivasi - Dibaca: 30234 kali

 

Supaya terjadi keseimbangan dan keharmonisan dalam keluarga; berikut ini akan dijelaskan beberapa hal tentang kewajiban-kewajiban seorang anak terhadap orangtuanya, yaitu:

 

1. Seorang Anak Wajib Menaati Perintah Orang Tua

Kewajiban anak terhadap orang tuanya yang pertama adalah menaati keduanya. Hal ini sebagaimana Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jadi salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Israa: 23).

 “Menaati Allah adalah menaati orang tua, dan mendurhakai Allah adalah mendurhakai orang tua” (HR. Thabrani)

Ayat dan hadits di atas merupakan perintah untuk menghormati dan menaati perintah orangtua. Bila orang tua memberi perintah maka kita harus berusaha untuk melaksanakan sebaik mungkin. Apabila tak bisa atau tak mampu untuk melaksanakannya, bicaralah serta jelaskanlah dengan cara yang baik. Tak boleh kita berkata yang keras atau kasar. Jangankan begitu, berkata “ah” pun (sebagai kata penolakan) tidak diperbolehkan.

Hanya ada satu perintah yang boleh ditolak, yaitu apabila perintah itu bertentangan dengan ajaran agama (Islam) misalnya memerintah menyembah selain Allah, berbuat dosa atau kemaksiatan. Perintah seperti itu boleh (malah wajib) ditolak, namun tetap harus dengan cara yang baik dan bijaksana. Jelaskanlah bahwa perintah itu bertentangan dengan jaran Islam, dan bisa dilaksanakan akan berdosa, tidak hanya yang mengerjakannya tapi juga yang memerintahkannya.

2. Menghormati dan Berbuat Baik Terhadap Orang tua

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada orang tua” (QS. Al Ankabut)

Pengertian berbuat baik terhadap orang tua di sini artinya sangat luas. Beberapa contoh perilaku berbuat baik terhadap orang tua diantaranya:

Berkata dan  bertutur kata yang sopan, lemah lembut serta menyenangkan hati orang tua kita. Jangan sampai berkata yang keras, kasar, dan menyakitkan hati orang tua, karena kalau orang tua sampai sakit hati kemudian dia mengadu dan berdo’a kepada Allah, maka do’anya akan langsung dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Merendahkan diri apabila berhadapan dengan orang tua. Mangan menatap tajam, apalagi sampai melotot. Apabila orang tua sedang duduk dibawah maka kita pun ikut duduk dibawah jangan duduk di kursi apalagi sambil berdiri. Sikap tangan harus ke bawah, bukan hanya kepada orang lain dan atasan, maka kepada orang tua pun harus senantiasa bersikap sopan.

Berterima kasih dan bersyukur atas kebaikan orang tua karena mereka sudah sangat berjasa terhadap kita; dari sejak kita masih dalam kandungan sampai dewasa dan berkeluarga seperti sekarang (Bagi yang telah berkeluarga: Pr). Sungguh sangat besar jasa dan pengorbanan kedua orang tua kita. Kita tak akan dapat membalasnya sampai akhir hayat sekalipun.

3. Mendahulukan dan Memenuhi Kebutuhan Orang Tua

Kewajiban anak terhadap orang tuanya yang ke 3 adalah hendaknya seorang anak senantiasa mendahulukan dan memenuhi kebutuhan orang tuanya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ra. Mengisahkan: Ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW. lalu berkata, “Aku akan berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad demi mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala”. Rasulullah bertanya, “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?” Orang itu menjawab “Ya, keduanya masih hidup”. Beliau tertanya lagi, “Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?” Orang itu menjawab “Ya”. Rasulullah bersabda “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, layani mereka dengan baik”.

Hadits tersebut memberi pelajaran untuk mendahulukan dan mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan serta pelayanan kepada orang tua. Bahkan dari hadits tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa melayani orang tua itu hampir sama derajatnya dengan berjuang (berjihad) di jalan Allah Ta’ala. Berbahagialah anak yang bisa memenuhi kebutuhan orang tuanya dan melayaninya dengan baik.

4. Minta Izin dan Do’a Restu Orang Tua

 “Keridlaan Tuhan bergantung (kepada) kerelaan orang tua dan kemurkaan Tuhan bergantung (kepada) kemurkaan orang tua”.

Melalui perjalanan panjang kisah hidup manusia sudah banyak terbukti bahwa seorang anak hidup berbahagia karena orang tuanya senang dan ridla kepadanya. Begitu juga sudah banyak terbukti seorang anak hidupnya celaka dan sengsara karena orang tuanya murka serta melaknatnya.

Begitu besar peran keridlaan dan do’a orang tua ini, bahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ad Dailami’, Rasulullah SAW. pernah bersabda. “Do’a orang tua bagi anaknya seperti do’a seorang Nabi bagi umatnya”. Maksudnya do’a orang tua itu sangat mustajab dan cepat dikabulkan oleh Allah SWT seperti halnya do’a para Nabi dan Rasul.

Sehubungan dengan itu ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh anak terhadap orang tua nya:

Bila ada suatu keperluan, biasakanlah untuk meminta izin kepada orang tua. Apabila orang tua mengizinkan laksanakanlah, namun apabila tidak mengizinkan dan keperluan itu bisa ditunda, maka tundalah untuk sementara waktu. Hal ini terutama bagi anak yang masih tinggal dengan orang tua nya.

Apabila ada tugas, berangkat ke sekolah, kuliah, bekerja atau tugas ke luar daerah/ke luar negeri; biasakanlah meminta izin serta do’a restu dari orang tua; karena hal itu akan membawa berkah, misalnya akan berhasil atau mendapat lebih banyak keuntungan .

Sikap ketika meminta izin atau do’a restu haruslah dengan cara yang lemah-lembut, sopan, bijaksana supaya orang tua memberi izin dan doa restu dengan tulus ikhlas.

5.  Membantu Tugas dan Pekerjaan Orang Tua

Anak haruslah selalu berupaya agar bisa membantu dan meringankan tugas/kewajiban orang tua, bukannya malah menambah berat dan membuat semakin susah mereka. Bantulah mereka sesuai dengan kemampuan, misalnya dengan tenaga, pikiran maupun materi.

Beberapa contoh yang bisa kita lakukan misalnya:

Apabila anak lelaki bantulah ayah untuk membereskan atau memperbaiki rumah, berkebun, memperbaiki peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Apabila anak perempuan bantulah ibu dengan cara menyapu, mengepel, mencuci, memasak, dan sebagainya. Buka usaha atau toko, bantulah orang tua semampunya seperti membawakan barang, menunggui tempat usaha atau toko, dan sebagainya.

Bantulah orang tua dengan senang hati dan ikhlas agar tak menjadi beban ketika mengerjakannya serta mendapat pahala dari Allah SWT.

6.  Kewajiban Anak Selalu Menjaga Nama Baik dan Amanat Orang tua

“Sesungguhnya sebesar-besar dosa ialah memaki ayah ibunya sendiri” Ada yang bertanya kepada beliau, “Bagaimanakah seorang memaki ayah ibunya?” Rasulullah SAW. menjawab, “(yaitu dengan) memaki ayah orang lain lalu di balas (oleh orang lain itu) dimaki pula ayahnya atau ibunya dimaki dibalas pula dimaki ibunya”.

Hadits di atas menjelaskan keharusan kita menjaga nama baik orang tua. Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah:

Panggillah orang tua dengan “ayah” dan “ibu” atau yang semakna dengan itu. Jangan memangil orang tua dengan namanya langsung, hal tersebut sangat terlarang.

Jangan memaki nama atau perilaku orang tua orang lain, karena dikhawatirkan mereka akan membalas memaki nama dan perilaku orang tua kita. Bila hal itu terjadi berdosalah kita.

Jagalah ucapan dan perilaku kita agar tetap sopan dan santun, karena baik tidaknya perilaku kita akan membawa nama orang tua dan keluarga kita.Termasuk pula dalam menjaga nama baik orang tua adalah menjaga serta melaksanakan amanatnya, asalkan amanatnya itu sejalan dengan ajaran Islam.

Termasuk dalam menjaga amanat orag tua adalah menjaga dan melaksanakan semua nasihat serta petunjuk (yang sesuai dengan syariat Islam) juga menjaga serta melaksanakan ajaran Islam dengan benar dan tekun.

 7.  Kewajiban Anak adalah Senantiasa Mendoakan Orang tua

Mendo’akan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal adalah kewajiban anak yang harus senantiasa dilaksanakan; karena apabila sampai ditinggalkan maka terputuslah rizkinya.

Rasulullah bersabda: “Bila seorang hamba (manusia) sudah meninggalkan berdo’a bagi kedua orang tuanya maka sungguh akan terputuslah rizkinya” (HR. Ad Dailami).

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang memerintahkan kita untuk mendo’akan orang tua kita, satu di antaranya adalah yang tercantum di atas. Mengapa kita wajib mendo’akan orang tua? Karena begitu banyak dan besar jasa orang tua terhadap kita, maka sudah selayaknya apabila kita selalu mendo’akan mereka.

Apa saja yang harus kita do’akan untuk orang tua, misalnya mohon diampuni dosa-dosanya dan diterima semua amal ibadahnya, mohon diberi kekuatan iman dan Islam, kekuatan dan kesehatan jasmani serta rohani, dan masih banyak lagi sesuai keadaan dan kebutuhan, asalkan do’anya adalah yang baik-baik karena itu merupakan salah satu kewajiban anak terhadap orang tuanya.

Ada banyak contoh do’a untuk orang tua, di antaranya:

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan ibu-bapakku serta orang-orang yang beriman pada hari perhitungan amal (hisab)” (QS. Ibrahim: 41).

 “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan ibu-bapakku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya mengasuh (mengasihi) aku diwaktu kecil” (HR. Tirmidzi).

 Bagaimana orang tua yang sudah meninggal bisa kita do’akan:

“Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya dan luaskanlah tempat tinggalnya” (HR. Muslim).

8.  Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua adalah Mengurus Mereka Sampai Meninggal

Anak bayi sampai dewasa atau menikah adalah kewajiban orang tua untuk mengurusnya, namun setelah anak dewasa adalah kewajiban anak untuk mengurus orang tuanya.

Pengertian mengurus di sini adalah memberi tempat tinggal serta memenuhi semua kebutuhan orang tuanya; misalnya makan, minum, pakaian, memberi hiburan, mengurus ketika sakit, dan sebagainya. Apabila anaknya tunggal maka anak tunggalnya itulah yang berkewajiban mengurus orang tuanya. Namun apabila anaknya lebih dari satu maka kewajiban mengurus orang tua ditanggung secara bersama.

Hal utama dalam mengurus orang tua adalah dengan diurus sendiri oleh anak-anaknya secara langsung. Adalah hal yang tidak etis apabila setelah berusi lanjut orang tua dititipkan ke panti jompo. Betapa hancur dan merananya hati orang tua apabila mengalami hal seperti itu bagaimana apabila anda mengalami sendiri.

Rasulullah bersabda: “Celakalah seseorang, kemudian celakalah, kemudian celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya berada pada usia lanjut, tapi tidak masuk syurga” (HR. Muslim).

Betapa Rasulullah sangat menekankan hal ini, beliau sampai berkata tiga kali. Maksud dari hadits tersebut adalah jika anak tidak lagi mau menyantuni kedua orangtuanya yang berada pada usia lanjut, maka berarti ia tidak suka masuk syurga. Dengan kata lain anak yang ingin masuk syurga adalah anak yang berusaha tetap dan terus berbakti kepada orang tuanya pada usia lanjut sampai wafat.

9. Memenuhi Janji dan Kewajiban Orang Tua

Setiap janji haruslah ditepati, dan setiap kewajiban haruslah dilakukan. Ketika orang tua sudah tak mampu memenuhi janji dan kewajibannya, misalnya karena sudah uzur (tua) atau meninggal, maka sudah menjadi kewajiban anaklah untuk bisa memenuhinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatan oleh Abu Daud dijelaskan ada yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah SAW. apakah aku masih (harus) berbuat baik kepada kedua orangtua setelah kedua-duanya meninggal dunia?” Rasulullah menjawab, “Ya, empat hal (yang harus dilakukan) yaitu mendo’akan dan memohon ampun bagi keduanya, memenuhi janji-janjinya, menghormati sahabat-sahabatnya, serta bersilaturahmi terhadap orang yang tidak menyambung silaturahmi kepadamu selain melalui kedua-duanya. Itulah di antara yang masih bisa kamu lakukan sebagai kebaikan terhadap kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia

Lingkup janji dan kewajiban di sini tentulah dalam pengertian yang sesuai dan dibenarkan oleh syariat Islam. Adapun janji dan kewajiban yang tidak sesuai dengan syari’at Islam tidak usah atau malah jangan (haram) untuk dipenuhi. Hal itu diantaranya berdasarkan sabda Rasulullah: “Ketaatan itu hanyalah pada hal-hal yang baik (ma’ruf), dan tidaklah diperbolehkan menaati makhluk dalam hal maksiat kepada Allah”

Diantaranya janji dan kewajiban yang harus segera dipenuhi adalah membayar hutang-piutang terhadap saudara atau orang lain atau pihak lain (berupa lembaga misalnya koperasi atau bank) kecuali yang sudah direlakan oleh orang/pihak lain tersebut. Rasulullah mengingatkan: “Jiwa seorang mu’min tergantung pada hutangnya, sampai hutangnya tersebut dapat dilunasi” (HR. Ahmad).

Contoh lain janji dan kewajiban yang harus dipenuhi adalah melaksanakan janji atau amanat yang telah disampaikan, baik secara lisan maupun tulisan; kepada kita sebagai anaknya maupun kepada orang lain (disertai bukti), misalnya menghibahkan atau mewakafkan tanah/bangunan untuk keperluan umum seperti madrasah, masjid atau ruang serba guna.

Dengan dipenuhi janji dan kewajiban orang tua oleh anak-anaknya maka akan meringankan beban mereka di alam kubur/akhirat, menambah amal ibadah mereka serta membawa keberkahan bagi harta atau rizki yang dimiliki oleh anak-anaknya.

10.  Meneruskan Silaturahmi dengan Saudara dan Teman-teman serta Sahabat Orang Tua

Hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dengan saudara, kerabat, teman-teman serta sahabat orang tua haruslah tetap dijaga dan dijalin oleh anak-anaknya. Jangan sampai hubungan silaturahmi itu terputus setelah orang tua meninggal.

Pada hadits lain yang senada dengan hadits di atas adalah dijelaskan bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah, “Kedua orang tua saya sudah meninggal, apakah ada jalan (cara/peluang) untuk berbakti kepada keduanya walaupun sudah meninggal?” Rasulullah menjawab, “Ya, bacaan  istigfar (mohon) ampun untuk keduanya, dan melaksanakan wasiat keduanya, serta menghormati sahabat-sahabatnya dan menghubungi (bersilaturahmi) kepada famili (kerabat/sanak saudara) dari keduanya.

Demikian beberapa kewajiban yang harus dilakukan oleh anak terhadap kedua orang tuanya. Semoga dapat melaksanakannya dengan baik dan ikhlas, sehingga kita menjadi anak yang shalih. Aamiin.

Sumber: Fiqih Pendidikan karya Drs. Heri Jauhari Muchtar