Kamis, 04 Desember 2014 - 14:09:00 WIB
Islam dan Makna Kesolehan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Dakwah - Dibaca: 507 kali

Islam dan Makna Kesolehan

Tekad ingin berubah akhirnya mengantar gadis yang kini berkerudung itu ke Mesir. Sebuah kalimat sederhana dari gurunya membuat hatinya mencair setelah sebelumnya beku. “Hani yakin, orang tua Hani masih ada esok? hal terbaik apa yang sudah pernah Hani lakukan untuk keduanya?” Tanya sang guru tanpa ada jawaban dari yang ditanya.
“Kalau tidak saat ini kapan lagi aku berubah?” tiba-tiba suara hati itu muncul. Pearching (tindikan) yang memenuhi wajahnya dilepas, budaya ngedrugs yang selama ini ia lakoni secara sembunyi-sembunyi mulai ia tinggalkan, semua aktivitas yang kelam sudah ia buang jauh-jauh dari kehidupan.“Aku ingin berubah!!!” hanya kata itu yang ia ucapkan ketika dorongan untuk melenceng kembali membombardir benak dan jiwanya. Bayangan wajah orang tua selalu ia sertakan sebagai penguat tekadnya untuk berubah.
Kini ia hadir sebagai sosok seorang muslimah, seorang Hanifah yang kini terlihat lebih anggun dengan jilbabnya yang terurai dan pakaiannya yang tak lagi membentuk lekuk tubuh. Dunia tersenyum melihatnya, mentari pun menundukan pandangannya.
Hani termasuk gadis beruntung, karena dengan mudah hidayah merasuk ke jiwanya, walaupun proses untuk berubah masih menuntutnya untuk berpayah-payah, karena godaan sesekali mengganggunya. Untuk merubah dan membenahi diri dari kelamnya dunia remaja yang dulu ia tekuni bukanlah hal yang mudah, perlu ada yang selalu mengingatkan, oleh karenanya, Hani mencari kawan baru yang senantiasa mengingatkannya.

Takdir mengantarkannya ke sebuah pondok pesantren, padahal sebelumnya ia sangat ingin meneruskan sekolahnya ke sebuah SMA negeri. Mungkin Alloh sayang kepadanya, boleh jadi, jika ia duduk di bangku SMA, tekadnya untuk berubah luntur begitu saja terbawa pergaulan.
Di pondok, tekadnya bak bunga, semakin tumbuh dan mekar. Cita-citanya untuk membahagiakan orang tua hampir menemukan rimbanya. Kesempatan itu datang, pengumuman tes beasiswa berangkat ke Mesir terpampang di mading pondoknya. Tangannya mengepal, kedua alisnya merapat, sorot matanya yang tajam hanya tertuju ke satu kata, “Mesir”. “Aku yakin, aku bisa, kalau ada 50 orang yang lulus, maka aku adalah salah satunya, kalau ada 10 orang yang lulus, aku adalah salah satunya, kalau hanya ada satu yang lulus, maka… itulah aku!!” gumamnya dengan yakin.

Sekarang, ia telah di Mesir, menemukan atmosfer baru dalam hidupnya. 4 tahun adalah cerita tentang perjuangan dan pengorbanan. Hani masih mengejar cita-citanya, tuk temukan tangis haru orang tuanya dikemudian hari.

***
Cerita Hani di atas menggambarkan bahwa untuk sebuah perubahan ke arah hidup yang baik, memang perlu pengorbanan. Terkadang perubahan tersebut menuntut kita untuk berseberangan dengan kebiasaan atau nilai kehidupan yang sebelumnya kita anut, itulah konsekuensinya.

Seorang ulama mengatakan bahwa jiwa manusia tak dapat meninggalkan sesuatu yang lama kecuali dengan adanya yang baru, karena jiwa itu diciptakan untuk bekerja, bukan dibiarkan begitu saja.

Kita kembali ke abad enam dan ke tujuh, sekedar mengait-ngaitkan. Tak ada perbedaan pendapat, bahwa pada abad-abad tersebut, semua peradaban di setiap belahan dunia sedang mengalami kemerosotan, terutama masalah moral.

Masyarakat jahiliyyah di negeri jazirah sana adalah salah satu peradaban yang sejarah tak luput mencatatnya. Dari segi pemikiran dan kemahiran bersyair, masyarakat ini patut diacungkan jempol, namun sangat jongkok dalam masalah keyakinan dan moral. Pelacuran sudah menjadi pemandangan sehari-hari, bunuh-bunuhan untuk merampas harta adalah hal yang lumrah.

Saat kegelapan menyelimuti peradaban bangsa arab, seberkas cahaya muncul. Seorang Muhammad SAW lahir di tengah dunia tandus nan kering kerontang. Bayi mungil dan lucu tersebut dikemudian hari tumbuh menjadi sosok pribadi jujur, kharismatik dan disukai banyak orang, namun seiring berjalannya waktu, tugas itu pun datang, tugas yang membuatnya dikucilkan dan dimusuhi, bahkan disakiti. Orang-orang belum siap menerima perubahan yang beliau Rasulullah SAW sodorkan, karena perubahan itu sarat dengan ideologi yang jelas banyak berseberangan dengan adat yang selama ini dianut masyarakat jahiliyah.

Itulah cuplikan sejarah Rasulullah SAW. Setidaknya, ada satu pelajaran penting yang bisa diambil dari potongan kisah beliau Rasulullah SAW yang ada kaitannya dengan makna perubahan. Seorang ulama mengatakan bahwa para nabi diutus untuk menyempurnakan fitrah manusia dan mengembalikan kemurniannya, bukan untuk mengganti atau mengubah fitrah. Sebagai contoh; ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah, penduduk kota itu sedang merayakan hari raya dengan permainan. Beliau bertanya; “Dua hari raya apakah itu?” mereka menjawab “Di masa jahiliyah dulu kami biasa mengadakan permainan-permainan dalam dua hari raya itu. Kemudian Rasullullah SAW mengatakan “Allah telah memberi penggantinya yang lebih baik bagi kalian, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri1).

Perubahan ke arah yang lebih baik, bagi agama Islam, bukan bermakna pengebirian terhadap sisi kemanusiawian manusia, oleh karenanya tak ada sistem kerahiban dalam islam. Menjadi lebih baik dalam hal moral/akhlak jangan dimaknai seperti menjadi rahib, melepas semua kesenangan dunia fana dan beralih ke tempat ibadah, menyepi, menyendiri, tak bersosialisasi sama sekali. Itu bukan makna kesalihan yang diinginkan Islam, salah seorang ustadz pernah mengatakan bahwa keimanan juga perlu dibenturkan dengan realitas, maksudnya, bukanlah sebuah keshalihan hakiki jika shalihnya dalam ruangan empat kali empat dengan pintu digembok tertutup rapat.

Bukankah Al-Quran sudah menyinggung masalah ini? Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dimasukkan surga, padahal belum datang kepadamu seperti yang menimpa kaum sebelummu, mereka ditimpa kesulitan, ancaman/bahaya, dan kegoncangan sehingga berkatalah seorang Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya; ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” Ayat lainnya, dapat dilihat di surat Al-Ankabut ayat 2-4.

Kerahiban, sama sekali bukan sistem yang pas untuk menanggulangi dan mencegah kerusakan moral di muka bumi. Lihatlah bagaimana sejarah mencatat keanehan rahib-rahib yang nyatanya tak mampu memperbaiki berbagai macam kerusakan yang sedang melanda kehidupan akhlak manusia dan adat budaya masyarakat Romawi saat peradabannya mencuat di muka bumi. Berikut ini adalah sebagian pemandangan keanehan tersebut,

“Dua abad lamanya tradisi menyiksa diri menjadi cita-cita ideal bagi penghayatan agama dan akhlak di Romawi. Berita yang berasal dari kaum Nasrani sendiri mengatakan bahwa rahib Makarios selama enam bulan tidur di kubangan sampah dengan tubuh telanjang agar digigiti nyamuk berbisa. Setiap hari ia memikul besi seberat satu dacin (62,5 Kg), bahkan kawannya rahib Eusebius memikul dua dacin tiap hari, ia tinggal di dalam sumur tua yang tak berair selama tiga tahun. Rahib yang bernama Sint John berdiri dengan kaki sebelah selama tiga tahun tanpa tidur dan tanpa duduk. Bila merasa penat, ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar. Rahib Abraham selama 50 tahun tidak pernah mencuci muka dan kaki. Seorang rahib dari Alexandria di kemudian hari mengatakan: "Alangkah menyesalnya, sekian lamanya dulu kami menganggap cuci muka sebagai perbuatan haram, tetapi kami sekarang masuk ke kolam-kolam pemandian2). Masih banyak cerita tentang rahib-rahib dan keanehannya, namun yang perlu diketahui, saat budaya kerahiban itu menjamur di seantero Romawi, saat itu pula budaya hedonisme dan matrealisme merajalela di negeri tersebut. Hanya sistem kerohanian dan sistem moral yang penuh kebijaksanaan lah yang sanggup mengurangi sifat kebendaan/materialis dan hedonis, bagaimanapun fitrah manusia tak dapat dihilangkan, ia hanya dapat dibelokan dari arahnya yang negatif ke arah positif, dan itulah yang diperbuat oleh Islam.

Banyak orang yang memiliki pandangan parsial tentang makna keshalihan dalam islam, bahkan dalam memandang islam itu sendiri. Prasangka-prasangka bahwa menjadi shalih berarti menarik diri dari khalayak ramai, hanya beribadah tanpa hiraukan urusan dunia masih saja berseliweran dalam benak-benak manusia, bahkan insan akademis sekalipun. Kalau pemahaman seperti ini yang masih dipakai, maka zaman hanya menyediakan dua pilihan; “Menjadi shalih dan terasing” atau “Hidup bebas dan mendapat semua kesenangan". Sesempit itukah makna keshalihan dalam Islam? Keshalihan bukan diraih dengan berlebihan dan mempersulit diri dalam beragama, keshalihan hanya dapat diraih dengan komitmen dengan sunnah Nabi SAW - seshalih-shalih manusia disisi Alloh swt - serta konsisten dalam mengamalkannya.
Dari Abu Hurairah – Rhadiyallahu anhu – bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, dan tidak memberatkan seseorang kecuali orang tersebut memperberat (Dirinya sendiri)….” HR. Bukhari
"Ruhbanun fillail wa fursaanun finnahar". Dengan cerdas seorang ulama mengibaratkan bagaimanakah seharusnya seorang muslim berakhlak. Bagai rahib di malam hari, dan penunggang kuda di siang hari, kalimat yang cukup mewakili karakter seorang muslim. Bagi seorang muslim akhirat mempunyai haknya, begitu pula dunia. Dia tidak berlebihan dalam agamanya, begitu pula urusan dunia. Inilah makna keshalihan yang diinginkan Islam.

Cairo, 20 Juli 2009
___________________________________________________________________________
1)Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad Anas, Ahmad bin Hambal dan An-Nasaiy
2)Kerugian Apa yang di derita Dunia Akibat Kemerosotan Kaum Muslimin; hal. 214-215; penerbit: International Islamic Federation of Student Organization (IFSO)